Tiga Manajer Inggris yang Jadi ‘Korban’ Media

Tiga Manajer Inggris yang Jadi ‘Korban’ Media

Sejarah membuktikan kalau manajer timnas Inggris dan media tidak bisa bersatu. Sam Allardyce bukanlah manajer pertama timnas Inggris yang harus kehilangan jabatan karena pemberitaan media di Inggris.

Allardyce memutuskan mundur dari jabatan sebagai manajer timnas Inggris, Selasa (27/9), menyusul video skandal yang diungkap Telegraph. Dalam video yang diduga direkam pada Agustus 2016, Allardyce bertemu jurnalis Telegraph yang mengaku sebagai perwakilan dari sebuah perusahaan di Timur Tengah.

Allardyce yang mendapat gaji 3 juta poundsterling per tahun dari FA, diduga menggunakan jabatannya untuk mendapatkan 400 ribu poundsterling. Uang tersebut digunakan untuk membayar Allardyce, yang nantinya akan memberikan nasihat bagaimana mengakali peraturan FA.

Dalam perbincangan dengan jurnalis Telegraph yang sedang menyamar, Allardyce memberikan saran untuk mengakali aturan FA terkait kepemilikan pemain oleh pihak ketiga yang dilarang dalam sepak bola Inggris. Allardyce setuju untuk pergi ke Singapura dan Hong Kong untuk menjelaskannya.

Dalam video tersebut Allardyce juga menghina mantan manajer timnas Inggris, Roy Hodgson, dan asistennya, Gary Neville. Mantan manajer Sunderland itu juga menganggap keputusan FA merenovasi Stadion Wembley sebagai keputusan yang ‘bodoh’.

Blunder Gleen Hoodle

Pada 2 Februari 1999, Glenn Hoddle dipecat FA dari jabatan manajer timnas Inggris menyusul pemberitaan surat kabar The Times. Dikutip dari Herald Sun, dalam wawancara dengan Matt Dickinson, Hoddle mengatakan, “Orang difabel dan lainnya, mendapat hukuman dari kehidupan sebelumnya.”

Ketika itu Hoddle menolak untuk mundur dan mengklaim pernyataannya disalahartikan. Namun, FA tetap memecat mantan pelatih Tottenham Hotspur tersebut. Hoddle pun akhirnya mengungkapkan permintaan maaf usai dipecat.

“Saya menerima kalau saya sudah melakukan sejumlah kesalahan dalam wawancara, yang menyebabkan sejumlah orang terluka. Saya tidak pernah berniat seperti itu, dan untuk itu saya minta maaf,” ujar Hoddle.

Manajer timnas Inggris yang menjadi korban media adalah Sven-Goran Eriksson. Pelatih asal Swedia itu menjadi koran ‘Sheikh Palsu’ Mazher Mahmood yang bekerja untuk News Of The World.

Pada Januari 2006, Mahmood menyamar sebagai pengusaha kaya raya dari Timur Tengah yang mengaku ingin membeli Aston Villa. Eriksson kemudian mengatakan siap meninggalkan timnas Inggris dan melatih Villa jika Mahmood membeli.

Eriksson berjanji akan membawa David Beckham, yang ketika itu memperkuat Real Madrid, ke Villa. Mantan pelatih Lazio itu juga membuat tudingan terhadap sejumlah pemain Inggris, salah satunya mengatakan kalau Michael Owen tidak senang di Newcastle United.

FA kemudian memerintahkan Eriksson untuk meminta maaf kepada sejumlah pemain Inggris. FA mempertahankan Eriksson dan baru mendepaknya usai Piala Dunia 2006. FA mengaku keputusan untuk mendepak Eriksson tidak ada hubungannya dengan pemberitaan News Of The World.

32 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply