Soal Julian Nagelsman, Pelatih Termuda Bundesliga yang Lolos dari Perhatian

Soal Julian Nagelsman, Pelatih Termuda Bundesliga yang Lolos dari Perhatian

Bicara soal pelatih muda di level top Eropa, berapa angka usia yang biasanya disebut? Bukan 28 tahun pastinya. Itulah usia Julian Nagelsman saat ditunjuk melatih TSG Hoffenheim.

Kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya pada 27 Oktober 2015, Nagelsman mendapatkan kepercayaan besar di usia yang muda, bahkan secara relatif bisa dibilang sangat muda. Dia baru 28 tahun kala Hoffenheim menyatakan menunjuknya jadi pelatih.

Penunjukan itu pun serius, bukan sekadar sebagai manajer sementara. Tiga tahun kontrak didapatkannya dari Hoffenheim dan sedianya akan dimulai pada musim 2016/2017. Namun pengunduran diri Huub Stevens pada Februari 2015 karena masalah kesehatan, memaksa Hoffenheim mempercepat dimulainya perjalanan bersama Nagelsman.

Penunjukannya kala itu juga diwarnai kritik karena usianya masih terlampau muda, sampai-sampai media lokal Rhein-Neckar-Zeitung menyebut langkah Hoffenheim sebagai aksi public relations (PR) semata. Tapi sebenarnya menunjuk Nagelsman cukup masuk akal.

Meski masih muda, dia mengenal klub dengan baik. Sejak 2010/2011 dia sudah menangani tim U-17, lalu menjadi asisten pelatih pada 2012/2013, juga melatih tim U-19 pada periode 2013-2016. Nyatanya, Nagelsman pada prosesnya membungkam kritik dengan hasil-hasil.

Dia berhasil menyelamatkan Hoffenheim dari ancaman degradasi musim lalu, memetik tujuh kemenangan dan dua hasil imbang dalam 14 laga. Musim ini, polesannya makin menunjukkan hasil.

Hoffenheim sementara ini ada di peringkat tiga klasemen Bundesliga dengan nilai 20 dari 10 pekan. Mereka cuma tertinggal empat poin dari Bayern Munich dan RB Leipzig di dua teratas. Ketiganya, adalah tim yang belum terkalahkan di liga sejauh ini.

Lalu bagaimana awalnya seorang pria, yang kini baru 29 tahun, sudah melatih sebuah tim di salah satu liga terbaik Eropa?

Nagelsman mulanya adalah pemain, seorang bek yang mengawali karier mudanya di Augsburg. Dia lantas sempat mengenyam ilmu di 1860 Muenchen sebelum kembali ke Augsburg. Tapi kariernya berhenti bahkan sebelumnya memulai langkah profesional. Cedera lutut memaksanya pensiun saat usianya baru 20 tahun.

Tapi masa lalu menyakitkan itu jugalah yang memacunya. Selepas pensiun, dia mengambil kuliah Administrasi Bisnis sebelum akhirnya pindah ke Ilmu Olahraga dan mendapatkan gelar sarjana di sana. Dari sana, Nagelsman membuka jalan sebagai pelatih.

Nagelsman memulainya dengan menjadi asisten untuk Thomas Tuchel, yang kini menangani Borussia Dortmund, di tim reserve Augsburg. Dia kemudian menjadi asisten untuk tim U-17 1860 Muenchen, sampai ‘berjodoh’ dengan Hoffenheim. Dia lantas membawa Hoffenheim U-19 menjuarai liga di musim 2013/2014.

Masih muda dan sempat merasakan pengalaman pahit, Nagelsman semacam menumpahkan ambisi, ide dan jiwa berapi-apinya dalam taktik. Pun karena tumbuh di generasi Gegenpressing, dia menjadi pelatih yang menggemari permainan terbuka, transisi cepat, dan tentu pressing agresif untuk merebut bola sedini mungkin.

Bagaimana besarnya ambisi dan keberanian Nagelsman sekali waktu terlihat di sebuah laga. Kala itu Hoffenheim tengah memimpin 1-0 atas Hertha Berlin, dalam laga yang bisa mengantarkan mereka ke posisi tiga klasemen. Jika normalnya manajer lain memasukkan seorang bek atau gelandang untuk mencoba mengamankan skor, Nagelsman memasukkan penyerang dan membuat timnya bermain dengan tiga penyerang.

Nagelsman juga punya sebuah ide menarik, di mana dia menilai tekel lebih berpotensi merugikan ketimbang menguntungkan.

“Ada elemen ketidakjelasan di dalamnya. Bola bisa bergulir ke sisi manapun, wasit bisa memutuskan itu memang bola kami atau sebaliknya (pelanggaran),” kata Nagelsman dikutip ESPN.

“Saya lebih suka kami memenangi bola dengan bergerak di lapangan secara layak, menutup opsi untuk mengumpan, memberikan tekanan ke lawan yang menguasai bola dan memaksanya salah mengumpan,” imbuhnya.

Muda, ambisius, berani. Nagelsman sejatinya sempat punya kesempatan berkarier di tim tersukses Jerman, Bayern Munich. Pada satu waktu, Bayern menawarinya sebuah wawancara untuk posisi pelatih tim U-23. Nagelsman yang baru 26 tahun kala itu memang datang ke sana, untuk menolak tawaran itu dan pergi ke Hoffenheim.

“Saya cuma mendoakan yang terbaik untuknya. Yang terbaik itu melatih tim terbaik di dunia. Saya harap dia bisa melakukannya. Mungkin dalam 10 atau 15 tahun. Itu akan bagus,” kata pelatih Bayern Carlo Ancelotti, soal kemungkinan Nagelsman kembali ke Bayern dan melatih tim utama suatu saat.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply