Stamina Pemain dan Kendala Klasik Timnas Indonesia

Stamina Pemain dan Kendala Klasik Timnas Indonesia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa buruknya stamina pemain tim nasional Indonesia acap kali menjadi penghambat tampil spartan di sepanjang laga. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus dibenahi.

Stamina merupakan kemampuan seorang pesepak bola untuk bermain selama 90 menit, bahkan hingga lanjut pada babak perpanjangan waktu tanpa adanya perubahan signifikan dalam performa.

Dokter timnas Indonesia Syarif Alwi membenarkan jika persoalan kebugaran masih menjadi hambatan di skuat Garuda. Masih banyak pemain ‘top’ yang kurang telaten menjadi stabilitas staminanya.

Alhasil, tim pelatih timnas harus bekerja dua kali lipat. Artinya, Alfred Riedl dan asistennya tak hanya fokus meramu taktik dan kolektivitas tim. Mereka juga harus bekerja keras mendongkrak fisik pemain.

Syarif menjelaskan, upaya meningkatkan stamina pemain sulit dilakukan dalam waktu singkat. Sebab, ini menyangkut ketelatenan individu untuk menjaga kualitas kebugaran dan kesehatannya.

“Meningkatkan kondisi fisik mestinya bukan pekerjaan utama di timnas. Karena, idealnya pelatih sudah mesti fokus mengasah taktik dan kolektivitas tim,” ujar Syarif dalam sejumlah kesempatan berbincang dengan CNNIndonesia.com.

“Tapi, sepanjang pengalaman saya di timnas, tim pelatih juga harus serius meningkatkan stamina sejumlah pemain yang faktanya masih berada di bawah standar,” ujarnya.

Syarif, tak menganggap persoalan fisik sebagai kelalaian klub si pemain bernaung. Sebab, urusan menjaga stabilitas stamina juga menjadi tanggung jawab individu atlet.

“Kesadaran menjaga daya tahan tubuh harus ditanamkan sejak usia dini. Jadi, mereka punya tanggung jawab besar terhadap kondisi fisiknya sendiri kalau memang kariernya mau panjang,” ujar Syarif.

Selain melakukan pemanasan dan olahraga yang seimbang, waktu istirahat yang cukup ditambah asupan makanan juga penting.

“Walau mulut ingin makan sambal dan manis-manis, harus ditahan. Pemain juga harus memahami faktor penting asupan gizi dan nutrisi yang seimbang untuk seorang atlet. Ya, kalau masih cuek makan sembarangan, tidak akan stabil staminanya,” papar Syarif.

Filipina dan Singapura Lebih Rinci

Dalam sebuah kesempatan, CNNIndonesia.com melihat perbedaan mencolok soal pengelolaan kebugaran pemain di antara kontestan Grup A Piala AFF di Manila, beberapa waktu lalu.

Ketika tim Filipina dan Singapura sibuk menggiring pemainnya untuk melaksanakan latihan di pusat kebugaran hotel. Skuat Indonesia justru tak nampak menggelar latihan kebugaran secara serentak.

Baik skuat Filipina maupun Singapura menggelar fitnes secara bergantian. Mereka juga didampingi pelatih fisik dan tim fisioterapis.

Sementara dari tim Indonesia hanya tampak hanya Hansamu Yama Pranata. Meski berstatus pemain cadangan di babak grup, ia memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kondisi fisiknya.

“Ini (fitnes) salah satu cara saya mengisi waktu luang yang ada. Selain menjaga kondisi tubuh selalu bugar juga untuk menghilangkan kejenuhan,” kata Hansamu saat ditemui CNNIndonesia.com di lokasi gym Novotel, Manila, beberapa waktu lalu.

Situasi ini terjadi dua hari menjelang laga terakhir fase grup digelar. Kala itu, Indonesia akan menghadapi laga menentukan lawan Singapura. Sementara Filipina bakal meladeni Thailand yang sudah memastikan diri sebagai juara grup.

Indonesia berada di dalam posisi krusial dengan raihan satu poin hasil dari imbang 2-2 lawan Filipina dan kalah 2-4 dari Thailand. Laga pamungkas lawan Singapura menjadi pertandingan mahapenting.

Meski pada akhirnya Indonesia menang 2-1 atas Singapura dan lolos ke semifinal, namun tim pelatih Merah Putih perlu berkaca dengan kontestan lainnya. Yakni, tetap melaksanakan persiapan rinci untuk menjaga stamina di samping juga memerhatikan proses pemulihan pemain.

Kompetisi Rutin Sejak usia Dini

Mantan pemain timnas Indonesia Imran Nahumarury juga mengamini kendala fisik masih menjadi permasalahan klasik di sepak bola Indonesia.

“Fisik memang selalu menjadi kendala bagi pemain kita dan sangat mempengaruhi konsentrasi di menit akhir. Maka jangan heran kalau kita kemarin sering kebobolan di menit-menit akhir,” ujar Imran.

Dari 13 gol kebobolan Indonesia sepanjang Piala AFF, lima di antaranya memang tercipta di 15 menit terakhir.

Menurutnya, PSSI harus mewujudkan cita-cita kompetisi berjenjang sejak usia dini. Dengan demikian, peningkatan stamina pemain sudah terasah sejak anak-anak.

“Kalau sudah terbiasa rutin bermain selama 60-90 menit sejak usia 10-14 tahun. Otomatis stamina mereka terasah hingga remaja dan siap di usia matang. Selama ini pemain muda jarang mendapat kesempatan bermain secara rutin karena memang tak ada wadah kompetisi rutin,” papar Imran.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply