Periode Sibuk Premier League Juga ‘Menyiksa’ Wasit

Periode Sibuk Premier League Juga ‘Menyiksa’ Wasit

Periode sibuk Premier League sudah banyak disoroti karena dinilai menyiksa para pemain. Tapi tak banyak yang memerhatikan para wasit, yang juga menderita.

Periode Natal-Tahun Baru di Premier League selalu menjadi periode menantang untuk klub, para manajer, dan para pemain. Dengan jadwal bermain yang rata-rata berkisar antara dua-tiga hari sekali, harus melakoni empat pertandingan beruntun, tak sedikit pemain yang jadi korban.

Sejumlah manajer juga menyatakan kritik terhadap jadwal yang terlampau padat di periode tersebut. Minimnya waktu istirahat untuk para pemain dinilai tak manusiawi dan mengancam kesehatan.

Wasit pun sejatinya mengalami ‘siksaan’ serupa. Dalam laporannya, Telegraph menghitung bahwa salah satu wasit yakni Andre Marriner, total menempuh jarak sekitar 1.771 km dalam sepekan! Itu lebih dari jarak Jakarta-Surabaya pergi-pulang.

Dalam laporan itu, Telegraph menyebut bahwa masing-masing dari 18 wasit Premier League melahap lebih dari 1.500 km sejak Boxing Day hingga 5 Januari. Seluruhnya bertugas dalam periode tersebut, baik sebagai wasit maupun sebagai ofisial keempat.

Secara rinci Telegraph menggambarkan perjalanan yang ditempuh Marriner. Pada pagi hari tanggal 26 Desember, dia menempuh jarak sekitar 161 km dari rumahnya di Birmingham untuk menjadi ofisial keempat, di laga Watford vs Leicester City di Vicarage Road, London.

Selepas laga itu, Marriner tak bisa beristirahat lama karena harus menempuh perjalanan 436 km ke Newcastle, untuk memimpin laga Newcastle United vs Manchester City pada tanggal 27 Desember. Setelah itu dia pulang ke Birmingham, melalui 331 km lainnya dan tiba pada dini hari tanggal 28 Desember.

Setelah beristirahat penuh pada 29 Desember, Marriner melakukan perjalanan sejauh 251 km pada esok harinya ke Bournemouth. Dia bertugas sebagai ofisial keempat di laga Bournemouth vs Everton dan langsung pulang ke rumah selepas laga, menempuh 251 km lainnya.

Dua hari kemudian, dia berangkat ke Liverpool untuk memimpin laga Everton melawan Manchester United pada 1 Januari 2018. Pria 47 tahun ini total menempuh 341 km bolak-balik dari rumah untuk laga ini.

Yang patut diingat juga, para wasit ini bukannya datang ke stadion lantas langsung bertugas dan bisa bergegas pulang setelah laga selesai. Mereka tiba di stadion dua sampai tiga jam sebelum kick-off untuk pengarahan keamanan, melakukan pemanasan, dan memastikan perlengkapan teknis siap sepenuhnya.

Selepas pertandingan pun mereka tak bisa langsung meninggalkan stadion. Setengah jam selepas peluit akhir berbunyi, para manajer akan dipersilakan untuk masuk ruang ganti para ofisial.

Kalau para manajer memanfaatkan kesempatan ini untuk menumpahkan kekesalan dari pertandingan, maka ya jelas suasananya akan panas. Seringkali, para ofisial ini meninggalkan stadion beberapa jam setelah laga selesai.

Tantangan-tantangan inilah yang dikhawatirkan memengaruhi kinerja wasit. Marriner beruntung tak menghadapi momen-momen kontroversial dalam laga-laga yang dipimpinnya. Tapi Mike Dean, Craig Pawson, dan Jon Moss tak seberuntung itu dan mendapatkan ‘serangan’ dari manajer.

“Mereka adalah manusia biasa, bukan mesin. Jadi bukan kejutan lagi kesalahan-kesalahan yang telah terjadi,” kata mantan kepala tim wasit Premier League Keith Hackett kepada Telegraph.

“Ini bukan cuma kelelahan fisik, tapi juga mental karena Anda tak bisa kabur dari sepakbola. Anda bekerja dari laga ke laga, dengan hampir tak bisa beristirahat dan mendapatkan tekanan konstan dari para fans dan media,” imbuhnya.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply